2

Sinopsis & Plot

Posted by Asrini Mahdia on 10:23 in


Hampir setiap hari berdiskusi sama mba Rina, walaupun bisanya cuma via kabel tapi cukup membawa manfaat tersendiri untuk saya. Tentunya kalau kita berdua lagi sama-sama nggak sibuk (ya mba :D)

Salah satunya tentang perbincangan kemarin. Mengenai dua hal ini, sinopsis dan plot.
Memang entah ya... sepertinya sudah penyakit saya untuk bertindak secara spontan, walaupun jujur saja... saya tipikal orang perfeksionis yang gila planning.

Setiap membuat naskah baru, atau naskah yang baru sekedar mampir berupa ide prematur, saya memang akan menuliskan sinopsis singkat untuk merekamnya. Apapun dan kapanpun ide yang datang, pasti akan saya rekam, untuk menjaga tingkat produktivitas saya dalam tanda tangan surat kontrak seumur hidup sebagai penulis yang dibuat oleh saya sendiri (secara metafor, katakanlah begitu). Jadi harus selalu ada ide-ide untuk menulis novel-novel selanjutnya. "Kandang ide" yang belum direalisasikan di folder komputer harus selalu terisi, dan pada saat ini kandang itu sebenarnya sudah sangat penuh, karena seringnya saya terkena writers block dan mood yang nggak stabil.

Bahkan primary novels aja banyak yang belum kelar... *sigh* Entah ya, susah juga menjadi penulis yang memiliki mood tidak stabil begini. Seringkali terkena writers block karena memikirkan banyak hal yang kurang penting.
Contoh "kandang ide" yang saya publish di dunia maya ada di The Unfinished Novels yang linknya saya tautkan di blog ini.

Nah, setelah discuss dengan mba rina kemarin... saya jadi menyadari, kenapa saya sering terkena writers block, disamping disebabkan oleh mood yang kurang stabil.
Saya memisahkan sepasang unsur ini.
Saya hanya selalu membuat sinopsis, itupun singkat sekali, nggak sampai satu halaman.
Dan saya selalu meninggalkan plot.

Padahal, sinopsis & plot... bisa dibilang, adalah pasangan yang tak terpisahkan.
Dan pasangan ini sangat dibutuhkan oleh setiap penulis dalam menentukan arah tulisannya (terutama penulis fiksi seperti novel, dan juga penulis buku) supaya mereka tidak mengalami hambatan dalam menulis, tidak tersesat dalam tulisannya sendiri, dan terus memegang kendali (bukan penulis itu yang diperbudak oleh sang tulisan) di setiap konflik dalam tulisannya. Kurang lebih begitu maksudnya.

Awalnya seorang penulis wajib menulis sinopsis, itu sangat-sangat perlu. Selanjutnya, setelah sinopsis selesai, penulis harus menulis plot. Untuk penulis novel, contohnya seperti mengkomposisi plot berdasarkan nama-nama karakter yang akan menjadi pemain di novel tersebut.
Semuanya harus dilakukan dengan detail.

Dimulai dari pemain frontal alias tokoh utama, kemudian terusss  dituliskan sampai pemain figuran yang hanya memiliki andil terkecil di dalam cerita. Di dalam plot itu penulis harus menjabarkan (di masing-masing karakternya) mulai dari sifat negatif positif karakternya, kemudian konflik mulai dari andil sang karakter di prolog, terus ke klimaks, anti klimaks, sampai kepada epilog. Semua harus dijabarkan secara gamblang dan detail, setiap kaitan mereka dalam cerita.

Proses penulisan sinopsis dan plot itu sendiri (menurut pengalaman saya) bisa memakan waktu seharian, sebelum pada akhirnya dikembangkan menjadi sebuah cerita dan pada akhirnya tercipta sebuah novel.
Karena itulah, saya suka males buat plot.... kalo sinopsis, oke perlu banget. Karena nggak mungkin semua ide saya tampung di dalam otak. Tapi kalau plot, saya pikir bisa secara otodidak terbentuk seiring sejalan dengan saya menulis konflik di novelnya.

Well, pada kenyataannya... itu tidak sepenuhnya benar. Dengan Cherry Blossom yang belummm juga mencapai halaman 100, dan mood labil ini sangat sangat mengganggu otak saya untuk berpikir on track dan kreatif, benar-benar sangat tersesat apabila tidak ada plot itu. Memang benar, dua unsur itu tidak boleh dipisahkan, layaknya pasangan sejati.
Terutama, entah kenapa... seiring berjalannya usia, produktivitas saya semakin melemah. Entah karena saya terlalu sering tidak beraktivitas seperti dulu, saya yang begitu aktif terutama dalam organisasi. Hmmm, bisa saja, ini berupa dampak dari itu semua. Walaupun memang, usia itu jujur saja... sangat menentukan kreatifitas dan proses berpikir, walaupun kemampuan meningkat dilandaskan oleh pengalaman. Tapi saya, kita, siapapun Anda yang seorang penulis, tidak akan mungkin lari dari kodrat Tuhan, dari kodrat Allah, yang mana telah menggariskan bahwa semua organ tubuh bahkan sampai sel darah terkecil pun akan semakin melemah jika terlalu lama dipakai, ibaratnya benda katakanlah begitu, semua ada masa kadaluwarsanya.

Semoga, masa kadaluwarsa dari kreatifitas dan produktifitas saya sebagai penulis masih berada dalam jangka waktu yang sangaaaatttt panjang. Amin. Bahkan kalau boleh, saya ingin mengucapkan perpisahan pada novel saya, dan menulis novel terakhir saya, ketika saya terbaring dimana sudah dekat 'waktu' saya, dan tidak berhenti menulis jauh sebelum keadaan itu tiba.
Semoga saja.

Yeap, sekarang waktunya untuk menulis plot... Cherry Blossom *glek* padahal udah mau masuk halaman 90! Belum bikin plot juga.. Dasar...

Link ke posting ini
0

The Rules of "EQ"

Posted by Asrini Mahdia on 16:39 in



Apparent in many aspects of human interaction is the notion of "survival of the fittest." In business, government, science, and even personal relationships, the competition for that which is scarce drives humans to find an "edge" over their adversaries. A good indicator of success in the past has been the level of one's intelligence. It was assumed that the relationship between one's IQ and one's success would be positively correlated. In other words, "smarter" individuals were bound to triumph over those less intelligent. 

However, what about "book smarts vs. street smarts?" Can an individual with an average IQ be more successful than an IQ genius? 

Yes, but only if the individual in question has the higher level of emotional intelligence (EQ); IQ will get you through school, but EQ gets you through life.

To be successful and survive in today's society, individuals need to have the necessary communication and organizational skills to make sound decisions and interact with each other. Goleman argues that an individual's success at work is 80 percent dependent on emotional quotient and only 20 percent dependent on intelligence quotient. This is because EQ  components are useful in assisting employees with decision-making in areas like teamwork, inclusion, productivity, and communication. 

Furthermore, good listening habits and skills are integral components of EQ, and carry the elements of self-awareness and control, empathy and social expertness. When a manager at AT&T Bell Labs was asked to rank his top performing engineers, high IQ was not the deciding factor, but instead how the person performed regarding the answering of e-mails, how good they were at collaborating and networking with colleagues, and their popularity with others in order to achieve the cooperation required to attain the goals. This is just one example of the benefits of high EQ regarding communication skills, time management, teamwork, leadership skills and business acumen. After all, we've often heard of the "genius" with no personality, and the brilliant surgeon with a horrible bed-side manner. 

Satu link yang berkaitan dan menurut saya mendukung resensi buku The Rules of 'EQ' yang ditulis oleh Rob Yeung di atas, adalah blog ini....

Di halaman ini dia menjabarkan secara jelas betapa kekuatan EQ jauh lebih kuat dan lebih dibutuhkan umat manusia dibandingkan dengan IQ....

Well, saya akan pindahkan semua postingnya di halaman blog saya ini. Karena yeah, this is a great posting... and it is so true.

EQ is an important thing to put in frontal of your life... thats what I thought, thats what I believe.. as a human that Allah has created, as a writer, and as a woman.... who dominated by emotional and big heart...

Kita sering mendengar kisah seorang yang sangat  cerdas, tapi sayang hidupnya  tidak pernah mengecap kesuksesan sama sekali atau orang yang lulus cumlaude dari universitas ternama dengan IPK yang sangat tinggi dan mempunyai banyak prestasi akademik, tapi  dia hanya menjadi buruh bangunan atau pencuci piring. Lalu apa yang menyebabkan  mereka menemui banyak kegagalan. Apakah kecerdasan saja tidak mampu mengatasi segala hambatan kita untuk meraih tangga kesuksesan. Sebaliknya banyak orang sukses, tapi mempunyai tingkat kecerdasan yang biasa-biasa saja dan  tidak pernah merasakan bangku kuliah. Salah satu penyebabnya adalah  karena  dunia pendidikan yang mengacu dunia Barat saat ini masih sangat berorentasi pada IQ. Dengan sistem pendidikan di sekolah  yang terfokus pada mengolah pikiran rasional  dan otak kiri kita, tapi tanpa mengajarkan bagaimana mengolah kecerdasan emosi (EQ) akan memberi dampak buruk bagi masa depan generasi kita. Kita sering melihat banyak orang  cerdas tapi mempunyai mental yang lemah, sangat pemalas, selalu dihantui ketakutan untuk melangkah, mudah menyerah sebelum bertanding, tidak punya daya juang tinggi, bermoral  bobrok, kurang bergaul, tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain atau tidak mau mendengar pendapat orang lain, arogan dan keras kepala,  dan lebih suka mencari jalan pintas.

Sebenarnya EQ ini dapat diajarkan dengan melatih aktivitas otak kanan kita yang mengintegrasikan aktivitas non vebal dan proses pemikiran holistik termasuk emosi yang didasarkan pada persepsi pengalaman nyata dan menghasilkan intuisi. Penyatukan antara pikiran dan perasaan akan menimbulkan kesimbangan jiwa dan kebahagiaan. Sebaliknya, jika salah satu dari pikiran atau perasaan yang lebih kita tekankan, maka kita akan banyak menemui hambatan di dalam hidup kita selanjutnya.

Menurut Peter Shepherd dalam bukunya Heart Intelligence, dia membedakan antara dua jalan hidup manusia:
1. Jalan Cinta dan komponennya adalah empati, kepercayaan, kepastian, percaya diri, pemahaman, dan lain-lain. 
2. Jalan Ketakutan dan komponennya adalah kebohongan, tidak mau memahami, tindakan kekerasan,  menolak berkomunikasi, dan lain-lain. Kedua jalan itu menuju kedua kutub antara kekuatan kebenaran atau kekuatan kegelapan tergantung cara kita bertindak melalui cinta atau ketakutan. Dengan jalan ini, kita bisa melatih kecerdasan emosi kita  untuk lebih mempraktekannya dalam kehidupan kita sehari-hari.  Dalam dunia bisnis, faktor ini sangat penting untuk melatih EQ karena hal tersebut dapat menimbulkan kerjasama antara pegawai, kreativitas dan keterbukaan, memahami sudut pandang yang lain, kemampuan menggunakan empati dalam negosiasi, kualitas kepemimpinan dan komunikasi. Sayang sampai saat ini EQ tidak pernah diajarkan di sekolahan, tapi hanya bisa kita dapatkan dari pengalaman hidup kita sehari-hari.

Konsep EQ ini bermula dari konsep “kecerdasan sosial” yang pertama kali diungkapkan oleh E.L. Thorndike di tahun 1920. Biasanya psikolog membagi kecerdasan yang lain dalam tiga kelompok:
1.      Kecerdasan Abstrak. (Kemampuan untuk memahami dan memanipulasi dengan simbol verbal dan matematis)
2.      Kecerdasan Konkret (Kemampuan memahami dan memanipulasi dengan objek)
3.      Kecerdasan Sosial (Kemampuan untuk memahami dan berhubungan dengan orang.

Thorndike mendefinsikan kecerdasan sosial sebagai kemampuan memahami dan mengatur lelaki dan perempuan, anak lelaki atau anak perempuan, untuk bertindak secara bijak. Gardner memasukan kecerdasan interpersonal dan intrapersonal dalam teori  kecerdasan. Kedua kecerdasan itu dimasukan dalam kecerdasan sosial. Dia mendefinisikannya sebagai berikut:
1.  Kecerdasan Interpersonal adalah kemampuan untuk memahami orang lain, apa yang memotivasi mereka, bagaimana  bekerja secara kooperatif dengan mereka. Politikus, guru, salesman, dokter, dan pemimpin religius yang sukses adalah seseorang yang mempunyai kecerdasan interpersonal yang tinggi.
2. Kecerdasan Intrapersonal adalah kemampuan untuk memahami diri sendiri. Inilah kapasitas untuk membentuk model diri sendiri yang akurat dan sebenarnya dan mampu menggunakan model  tersebut untuk dijalankan secara efektif dalam kehidupan.

Kecerdasan emosi atau EQ meliputi kecerdasan sosial dan menekankan pada pengaruh emosi pada kemampuan melihat situasi secara objektif dan memahami diri sendiri dan orang lain. Inilah kemampuan untuk merasakan, memahami, dan secara efektif menggunakan kekuatan emosi, disalurkan sebagai sumber energi, kreativitas, dan pengaruh dalam kehidupan kita sehari-hari, di tempat kerja atau dalam berhubungan dengan orang lain. Emosi sendiri adalah sumber energi dari manusia, aspirasi dan dorongan, membangkitkan perasaan terdalam dan tujuan hidup, dan mentransformasikannya dari apa yang kita pikirkan menuju menghargai hidup kita.  Sesungguhnya kesuksesan kita dalam hidup bukan hanya disebabkan oleh kecerdasan tapi ada  kualitas-kualitas yang lainnya seperti kepercayaan, integritas, otensitas, kreativitas, kejujuran, dan keuletan juga sangat penting. Kecerdasan yang lain inilah yang disebut dengan kecerdasan emosi .

Dulu saat orang sangat menganggung-agungkan IQ sebagai faktor utama kesuksesan seeorang, tapi Daniel Goleman menolak argumen ini berdasarkan penelitiannya pada otak dan perilaku manusia. Dalam bukunya “Emotional Intellegence”, Goleman menyatakan bahwa kecerdasan emosi (EQ) menjadi  indikator paling kuat dalam kesuksesan seseorang.  Dia mendefinsikan kecerdasan emosi berdasarkan kesadaran diri, atruisme, motivasi pribadi, empati, dan kemampuan untuk mencintai dan dicintai oleh teman-teman, patner, dan anggota keluarga.  Orang yang memiliki kecerdasan emosi adalah orang yang sesungguhnya sukses dalam tempat kerja, karir yang panjang, dan hubungan sosial. Sesungguhnya EQ bukan bawaan sejak lahir yang tidak bisa diubah-ubah, tetapi sesuatu yang bisa dipelajari dan dikembangkan melalui hubungan kita dengan orang lain. Kecerdasan emosi memainkan peran integral dalam mendefiniskan karakter dan menentukan nasib seseorang atau kelompok. Untuk mendapatkan kekuatan emosi secara cerdas, kita harus mempunyai lima strategi, yaitu :

1.      Kecerdasan Diri:
Mengamati emosi sebagai mana apa adanya, mewujudkan ide-ide sebelumnya dan konsep-konsep yang mendasari respon emosional, menjadi terbuka pada pengetahuan intuitif, kejujuran emosi-sebuah perasaan integritas dan otentitas yang terbangun.
2.      Kedewasaan Emosi.
Menghadapi ketakutan dan kegelisahan, kemarahan, kesedihan dan ketidakpuasan dan mengekspresikan energi itu secara konstruktif, mampu menahannya secara spontan.
3.      Motivasi Diri
Menyalurkan energi emosi untuk mencapai tujuan tertentu, keterbukaan pada ide-ide baru, kemampuan untuk menemukan solusi dan membuat keputusan yang tepat, keuletan yang penuh optimisme berdasarkan kompetensi, perasaan bertanggungjawab dan kekuatan pribadi untuk mengerjakan sesuatu menurut apa yang dibutuhkan dan diinginkan.
4.      Pemahaman atas Empati
Sensivitas kepada perasaan dan perhatian orang lain dan kemauan untuk menghargai pandangan mereka, menghormati perbedaan dalam apa yang dirasakan seseorang, kapasitas untuk mempercayai dan dipercayai, untuk memaafkan dan dimaafkan.
5.      Kualitas Komunikasi
Mengatur emosi  melalui komunikasi berdasarkan empati dan pemahaman, utuk membanguan perasaan saling percaya, skill sosial, termasuk mengatasi ketidaksepakatan secara konstruktif, dan kemampuan untuk menciptakan dan mempertahankan persahabatan, dan kepemimpinan yang efektif.
Kecerdasan emosi ini ditunjukan dengan toleransi, empati dan kasih sayang kepada orang lain, kemampuan untuk memverbalkan perasaan secara akurat dan penuh integritas, dan dapat mengatasi kesedihan emosional.  Inilah alasan mengapa EQ jauh lebih penting daripada IQ untuk meraih kesuksesan dan kebahagiaan.  Mungkin anda dapat sukses dalam tes dan ujian akademis, tapi bagaimana cara anda mengatasi kekecewaan, kemarahan, kecemburuan, dan ketakutan, masalah komunikasi, dan hubungan dengan orang lain yang selalu naik turun? Orang yang mempunyai kecerdasan emosi akan jauh lebih percaya diri dan lebih bisa memahami orang lain dengan penuh empati. Dia akan mempunyai kematangan emosional dimana banyak orang dewasa  gagal mencapainya dan masih bertingkah laku seperti anak kecil saat menghadapi banyak cobaan.

Link ke posting ini
0

Bahan-Bahan Doping Yang Selalu Menemani Saat-Saat Menulis...

Posted by Asrini Mahdia on 09:47 in

Susu Kopi/Kopi Campur Krim (Nggak pernah bisa minum kopi reguler)
 

Susu Cokelat Anget (Hot Chocolate) - Substitusi kopi
Air Putih (Mineral Water)
Snacks (Kalo Ada...)



Link ke posting ini
0

Menurut Saya, Seorang Penulis Itu....

Posted by Asrini Mahdia on 22:13 in
 
 

Saya nggak bisa bilang saya ini penulis thriller atau penulis romance. Karena jujur aja, saya rasa untuk seorang penulis thriller, memang sewajarnya memiliki ketertarikan dan keberanian saat menonton berbagai genre film thriller dari pembunuhan ringan seperti The X-Files, sampai pembunuhan sadis seperti Saw. Dan sudah sewajarnya, seseorang yang berkata bahwa dirinya adalah spesialis penulis romance, untuk mampu menikmati segala film bergenre romance, baik romance ringan, komedi romance, sampai romance aneh-aneh macam lesbian, gay, ataupun trans gender yang nggak takut menampilkan adegan-adegan syuurrr sebagai pelengkap cerita. Itu menurut opini saya. Dan jujur, saya sama sekali tidak termasuk diantara itu, saya suka thriller yang nggak terlalu thriller dan saya hanya suka drama komedi yang dinamis, bukan drama serius yang harus wajib memasukkan adegan.. ehm.. seks. Dan satu hal yang penting, semua yang saya lakukan harus tunduk pada satu kata negatif yang nggak bisa lenyap dari diri saya :BOSAN.

Tapi memang, setelah saya amati, ada penulis yang memang akan menerima semua wujud film se-ekstrem apapun film bergenre thriller ataupun romance itu, dan saya rasa, itu kategori penulis adaptasi, bukan penulis adaptasi secara definisi, tapi secara harfiah, alias lebih sering ngambil ide dari film, secara penulis ini sangat movieholic. Tapi ada juga penulis yang hanya menikmati estetikanya, hal yang ringan, dari dua genre film ini. Biasanya mereka lebih suka menulis novel bergenre teen,chick, atau metro. Tapi ada juga yang hanya ingin menikmati novel tanpa ingin menonton film, menikmati buku puisi, gaya bahasa, dan biasanya doyan bermetafor serta puas dengan kata-kata sulit yang diciptakannya tanpa berpikir arti secara visual dari apa yang telah digambarkannya, biasanya mereka ini adalah model penulis sastra.

Saya pernah menulis novel sastra, thriller, atau bahkan romance chick. Tapi entah kenapa,  saya nggak bisa melabelkan diri sendiri sebagai penulis aliran salah satu dari ini. Saya tidak bisa mencari identitas saya sendiri sebagai penulis kategori di atas. Dan akhirnya, seiring berjalannya waktu, seiring saya mengenal banyak penulis, ataupun berdiskusi dengan mereka, lama kelamaan saya menemukan titik terang dalam pencarian jati diri saya sebagai seorang penulis. Sepertinya domisili yang paling nyaman bernama  Psychology-Suspense , regional itu adalah domisili saya, mungkin itu lebih tepatnya aliran novel saya secara absolut. Terus terang, saya bukan penikmat banget banget novel psychology, buat saya novel psycho yang berat justru rada membosankan. Tapi saya akan menikmati cerita psychology yang dinamis, penuh intrik-baik itu intrik berbau pembunuhan/thriller atau intrik yang berkaitan dengan hubungan percintaan, romance dalam artian bukan hanya kekasih, tapi bisa hubungan cinta antara keluarga atau sahabat. 

Suspense, we know... artinya menurut kamus adalah ‘perasaan tegang’ atau ‘ketegangan’, dan itu yang menjadi kesukaan saya dan hiburan saya dalam menulis novel-novel saya.  Adrenalin. Dan saya yakin suspense itu sangat diperlukan dalam setiap novel supaya pembaca nggak bosen. Saya gemar mencari konflik-konflik rumit untuk membuat nyawa dalam novel itu, dan untuk membuktikan bahwa saya bukan penulis novel yang asal-asalan. Saya suka cerita yang dinamis tapi berisi, dan punya moment of thruth.. alias sesuatu yang nggak bisa saya lupakan. Dan memang, kadangkala saya terlalu out of control dan menimbulkan masalah buat diri saya sendiri. a.k.a terlalu berat dalam membuat konflik sehingga terkadang keluar dari jalur logika. Kata editor saya di salah satu penerbit, lebih gampang bikin nasi goreng daripada kue perancis, dan rasanya juga nggak kalah kelas. Well,  saya setuju dengan itu, sangat setuju. Karena seperti yang kita lihat, kue perancis yang dibikin (kadang) cukup rumit dengan bahan yang juga sulit didapat itu jika kebanyakan  dikonsumsi malah bikin eneg dan nggak kenyang juga, tapi kalo nasi goreng yang (paling simpelnya) tinggal masukin bawang dan telor aja bakal bikin  saya bisa nambah, malah bukannya bikin eneg, tapi bikin kenyang. Dan memang model makanan macam itulah yang dicari mayoritas orang Indonesia. Sama halnya dengan novel tentunya.

Seiring berjalannya waktu dan seiring semakin intensnya saya menulis terutama ketika saya sudah mendapatkan satu penerbit yang bersedia menerbitkan novel-novel saya saat inilah saya merasa saya semakin matang dalam berkarya, semakin yakin bahwa hobi ini nggak akan mati- sampai saya sendiri mati. Dalam arti kata, umur itu bukan menjadi penghalang  bagi saya untuk terus berkarya. Karena menulis novel itu salah satu bagian dari hidup saya kekasih saya, yang nggak akan saya tinggalkan sampai mati. Karena saya butuh menulis, dan cinta menulis. 

Tapi adakalanya kejenuhan itu datang, jenuh yang berangkat dari sebuah pemaksaan dimana sangat bertolak belakang dengan hati nurani. Arti menulis yang sebenarnya jadi terhablur dengan kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan dan mengganggu mood. Itu sumber awal kedatangan penyakit yang paling ditakutkan penulis. Sindrom writers block.

Ini paradigma pribadi. Sejatinya setiap penulis mempunyai paradigmanya sendiri-sendiri. Tergantung dari cara menulis dan genre yang dianut penulis tersebut.

Posting ini adalah paradigma seorang penulis yang mengaku menganut aliran Psychology Suspense dan selalu ingin menulis berbagai konflik berat, yang bikin penasaran, dan memacu adrenalin.

Meskipun pasar masyarakat tempatnya dilahirkan dan tinggal jarang yang menyukai aliran ini. Well, saya juga nggak mau idealis sih.... Membangun aset dari sebuah nama itu perlu, so nggak papalah sekedar menurunkan idealisme dengan membuat novel yang sesuai dengan minat pasar. Tapi kalau aset a.k.a 'nama' itu sudah di tangan, baru saya akan idealis sampai puas dan tak terbatasi lagi.

Just a resolution, from me as a writer... as a novelist.

Link ke posting ini
0

Fiksi

Posted by Asrini Mahdia on 18:08 in

Film ini diawali dengan menceritakan seorang wanita berumur 20 tahun bernama Alisha (Ladya Cheryl) yang merasa kesepian di rumahnya yang mewah. Dia hidup bersama ayahnya (Sultan Saladin) yang sibuk, pengurus rumah Bu Tuti (Rina Hassim), dan supir pribadinya Pak Bambang (Egi Fedly), dan pembantu lainnya. Alisha hidup dalam tekanan akibat masa lalunya yang tragis, yaitu saat Alisha menyaksikan Ibunya (Inong) sendiri bunuh diri dengan pistol milik ayah Alisha yang direncanakan ayah Alisha untuk membunuh istrinya sendiri. Alisha sangat menyukai bermain cello,untuk menghibur dirinya sendiri dalam rumahnya yang kosong. Masa lalunya yang tragis kerap membayanginya dalam setiap mimpinya, dan karena itulah Alisha merasa tertekan.

Pada suatu hari saat sarapan, Alisha mengungkapkan keinginannya untuk bekerja atau sekadar keluar dari rumah untuk mengusir kebosanannya pada ayahnya. Ayahnya pesimis, membuat Alisha marah dan kembali ke kamarnya, lalu Alisha menambahkan coretan sebagai ungkapan rasa marahnya pada ayahnya, melalui foto ayahnya yang sudah lama Alisha simpan sebagai ‘pelampiasan kemarahan’.

Esoknya, Alisha diantar Pak Bambang ke sebuah kantor desain tempat Alisha ingin bekerja. Pada mulanya, penguji Alisha seperti tidak yakin kepada Alisha setelah melihat desain Alisha. Namun setelah mendapatkan telepon, si penguji berbalik dan memutuskan untuk menerimanya. Alisha marah karena yakin penelepon itu adalah antek ayahnya. Ia lalu pergi ke mobil dan mengambil ponsel milik Pak Bambang. Ternyata dugaannya benar, di recent call HP itu ada nomor ponsel pengujinya. Sesampai di rumah, ia kembali melampiaskan kemarahannya dengan menempelkan foto ayahnya di dart dan dijadikannya sasaran.

Pada hari berikutnya,Alisha kesepian, dan memerhatikan seorang pria yang sedang membersihkan kolam renangnya, yang kemudian diketahui dari Bu Tuti, kalau namanya adalah Bari (Donny Alamsyah)seorang buruh serabutan yang tinggal di Blok S. Lalu Alisha turun kebawah saat Bari telah selesai bekerja, dan memerhatikan Bari mengambil hiasan kelinci di lemari di dekatnya. Alisha terobsesi kepadanya dan menggambar jendela kamarnya dengan gambar Bari, Alisha mencintainya.

Hari-hari berikutnya, Alisha memerhatikan, Bari sudah tidak bekerja lagi, Pak Bambangpun disuruhnya untuk mengantarnya ke Blok S, sampai malam ditungguinya namun Bari tak kunjung terlihat sementara Pak Bambang sudah membujuknya agar pulang saja. Beruntung, Alisha akhirnya menemukan Bari, Bari diikuti hingga Alisha mengetahui dimana Bari tinggal, sebuah rumah susun. Disana ia mengetahui Bari tinggal bersama seorang wanita, Alisha mengamati dan melihat kamar disebelah tempat tinggal Bari sedang disewakan. Alisha berencana minggat. Karena mengikuti Bari tanpa seizin Pak Bambang, Pak Bambang dan Bu Tuti sesampai di rumahnya menasehati keras, namun Alisha tetap tidak peduli.

Pada malamnya, Alisha mengepakkan koper dan mencari ide bagaimana ia bisa lolos dari Pak Bambang, dia mendapatkan akal. Pagi harinya, Alisha memberikan sekotak rokok kretek yang mahal sebagai permintaan maaf kepada Pak Bambang, lalu Alisha meminta Pak Bambang untuk mengantarkannya ke sebuah tempat Les Cello. Alisha menyuruh Pak Bambang untuk mengangkut kotak besar ke dalam gedung itu. Selagi Pak Bambang mengangkut ke atas, Alisha memindahkan koper beserta Cellonya ke sebuah taksi disebelah mobilnya, lalu Alisha kabur dan meninggalkan Pak Bambang yang kemudian membanting isi kotak besar yang dibawanya..... (by Wikipedia)


Karena nggak seru pake bersambung-sambung, saya ceritain aja sampe selesai… tapi saya akan cerita secara ringkas.

Menurut saya masalah cerita adalah bermula ketika Alisha pindah ke rumah susun yang disewakan tersebut, tepatnya ketika Bari mengetuk pintu kamar Alisha karena gadis itu berisik ngetok-ngetok selang besi wastafelnya yang rusak. Dari situ mereka kenalan. 
Alisha selalu ngamatin Bari yang tinggal satu kamar sama ceweknya, Renta. Nah, dia juga sering dengerin Bari sama ceweknya berantem, ngobrol, ngupingin dari tembok kamarnya, bahkan bisa dengerin kalo Renta sama Bari itu lagi have sex.

One day, Bari dengerin Alisha main cello, trus nemuin dia dan ngajak Alisha jalan-jalan di rusun itu. Ngamatin orang-orang yang berbeda-beda setiap lantai. Kalo lantai tiga dihuni sama para banci, lantai tujuh sama para homo, lantai delapan sama istri simpanan, atau lantai sembilan sama para hantu gentayangan korban yang rumahnya dibakar agar bisa dibangun bisnis rusun ini. 
Semacam itulah ceritanya, dan masih banyak lagi. 
Bari cerita kalau dia penulis dan sedang menulis tentang cerita kehidupan para orang rusun ini, sampai dia cerita sama Alisha kalau dia belum bisa nyelesein ceritanya, katanya “Itulah bedanya fiksi sama realita. Kalau fiksi itu ada ending, tapi kalau realita, life must go on” Makanya sampai sekarang novel itu nggak selesai-selesai.

Alisha yang psikopat karena kelakuan kedua orang tuanya itu, kemudian ngebantuin Bari nyelesein ceritanya - dengan caranya... Inilah sumber dari semua konflik.
Diantara karakter yang tinggal di rusun yang ada di cerita Bari adalah pasangan gay yang ternyata adalah bapak tiri sama anak laki-lakinya yang tinggal di rusun lantai 7, istrinya alias ibu si anak nyariin tuh anak, seperti yang diceritakan Bari ke Alisha. Kemudian Alisha deketin anak cowok yang namanya Dani itu, temenan, tapi Alisha malah nyuri nomor telpon ibu Dani dari ponsel Dani, trus hubungin ibu si anak dan ngasih tahu dimana Dani berada. Then at night, si ibu itu dateng, dan nembak mati bapak tiri Dani yang lagi bercumbu sama Dani. Sejak itu inspirasi terus mengalir di kepala Bari. 
Pembunuhan dan bunuh diri terus berlanjut di rusun itu akibat ulah Alisha, dan lama-lama Bari curiga. Sampai suatu waktu, Bari tahu kalau Alisha culik ceweknya Renta dan dikurung di salah satu kamar di lantai 9 rusun itu. Ini dilakukan, karena Alisha sayang banget sama Bari. Dan karena dia juga psikopat, dia selalu mengulang kata-kata dari ibunya, bahkan menjelang dia bunuh diri, Alisha selalu mengulang kata-kata ini “Semua kejadian pasti ada tujuannya”

Pokoknya masih banyak lagi kejutan yang bakal Anda dapet kalo nonton film ini. Mendingan nonton deh. Serius, it’s a brilliant movie. Salah satu film Indonesia yang terbaik, dari sekian banyak film 'sampah' Indonesia.
Saya kasih lima bintang buat film ini.

Film ini juga memenangkan 3 penghargaan FFI kategori Sutradara Terbaik (Mouly Surya), Skenario Terbaik (Joko Anwar), Soundtrack Terbaik, dan satu penghargaan internasional PUSAN kategori Film Internasional. 
See… how BEST this movie, betapa bernyawanya film ini. Salut buat Joko Anwar dan Mouly Surya. Keep doing good GUYS! Film ini membangkitkan inspirasi saya buat nulis lagi, setelah sekian lama kena sindrom yang dinamakan ‘writers block’. Sindrom yang paling ditakuti oleh para penulis.
Pertama Cherry Blossom, yang memasuki halaman 90... Revisi Falerta.... dan yang terakhir menyelesaikan Chum....
Tentunya sambil menyelesaikan skripsi...... (I dont like the last one)

Try to watch yap! :D


Link ke posting ini

Its Hard To Say...... (Bukan Hanya 2 Unsur Itu)

Posted by Asrini Mahdia on 22:10
Yeah, bukan hanya 2 unsur itu....
Bukan hanya PINTAR atau MANIS, yang rata-rata juga sudah banyak dimiliki pria jaman sekarang...
Youre more than that....
Bahkan saya suka ketika dia membenci New Moon atau Twilight....
Oh yeah me too, its bored... both of the novels and the movies
Definetely BORED... BORED... BORED....
Dan bukan hanya hobi, atau kesukaan....
I tell you, youre more than that.....
And why? Only myself know, I dont wanna write about you more in this blog...
Not anymore, I guess....



Kenapa sih harus memenjara diri sendiri dengan sifat skeptis itu? Sementara ada  seseorang di sini yang akan melengkapi apapun kekuranganmu dan mendukung segala kelebihanmu? 


I wanna help you... we are, woman and man.... dua insan yang diciptakan Tuhan untuk saling membantu dan menenangkan..... Nobody's perfect, no world perfect.... Youre not perfect, so do I.... We're not perfect at all....


Maybe yes, your friends right... you dont understand about LOVE.... you never understand about LOVE....


And maybe yes, you absolutely right.... you are afraid with women.... you do....


Maybe I'm not the one that God sent to you.... 
Maybe i'm not youre soulmate....


But i want you to learn (eventhough youre so smart, but not smart enough with this stuff)..... 
"Just be brave to tell LOVE to someone that you really LOVE, my friend......."


Because you..... yes, you.... you are so beautiful....
 A lot of girls like you......
Well yeah, maybe because youre smart or cute............


But not with me..... 
Youre smart and cute, yeah i'm interesting.....
Tapi tidak hanya dua unsur itu yang menarik darimu....


Jika hanya PINTAR atau MANIS yang menarik dari dirimu, mungkin perasaan yang ada di hati ini tidak akan se-lama ini terhadapmu.....
Mungkin perasaan ini tidak akan serius, karena masih banyak laki-laki  yang saya temui di luar sana yang melebihi dirimu akan dua unsur itu..... 


But....

Youre more than that to me....
Keindahanmu sangat berbeda.....
Berbeda dari laki-laki yang pernah menjadi masa lalu saya (atau memang mungkin tidak ada laki-laki yang BENAR yang pernah menjadi masa lalu saya - still doubt that) 

Youre sooo different....
Bahkan saya tidak mengenalmu, tapi entah mengapa.... Kamu terasa BEGITU ISTIMEWA...
Is it LOVE at first sight??


I dont know....
Banyak waktu dimana kita saling melihat, dan ada beberapa kali (meskipun tidak banyak) kita saling berinteraksi....


But this feeling is so special....
I'm feeling you are so special.....
This feeling is so strong.....


Because YOURE DIFFERENT........
And I can feel the beauty inside of that DIFFERENT.....


Satu kelebihan yang lain....
Saya merasakan... we have a lot of things in common......
Anything..... arts, musics..... and even now, youre one of active blogger too - like me....

Because youre A REAL MAN, who have a lot of things that you like the same as me - A REAL WOMAN....


We do have differences.....
Tapi saya merasa....perbedaan yang justru melengkapi, I'm sure.....
Like Yin & Yang.....

I'm a writer....
I wrote detective novels too, FYI... 
Thats why, saya sangat peka........
And i'm not a stupid woman, I'm smart.......
I'm smart to analyze anything, any situations, any gestures, and also You.....


Thats why I know, all of my theories..... RIGHT..... (mendekati BENAR, setidaknya)
Because I can feel it......


But, unfortunately......
I'm feeling so tired right now......


Dan kamu, masih saja mengabaikan semua ini.......
Meskipun saya menangkap sinyal-sinyal itu.....
Sinyal yang entah dikirimkan untuk saya atau siapa.....
Sinyal yang seolah menuntun saya, untuk berakhir padamu.....

Saat ini....
Sudah cukup....


Saya tidak mau berbesar hati lagi.....
Saya tidak mau terlalu yakin.....
Barangkali memang hatimu, bukan untuk saya..............

I dont wanna live in my dream anymore...
I dont wanna hoping the empty dream...
I dont wanna waiting untouchable someone...

Sampai semua jelas, apakah ini benar-benar tidak bertepuk sebelah tangan,
atau hanya angan saya seorang...

Sampai dia benar-benar datang, dengan berani dan jantan....

Link ke posting ini
4

Moon River - Henry Mancini & Johnny Mercer (1961)

Posted by Asrini Mahdia on 15:33 in

Moon River, wider than a mile
I'm crossing you in style someday
You dream maker, you heartbreaker
Wherever you're going I'm going your way

Two drifters off to see the world
There's such a lot of world to see
We're after the same rainbow's end
Waiting 'round the bend
My huckleberry friend, moon river and me

(Moon River, wider than a mile)
(I'm crossin' you in style some day)
Oh dream maker, you heart breaker
Whereever you're going, I'm going your way

Two drifters off to see the world
There's such a lot of world to see
We're after the same rainbow's end,
Waiting 'round the bend
My huckleberry friend, moon river, and me



Pernah dinyanyikan oleh : 
Andy Williams, Frank Sinatra, Audrey Hepburn, dan Sungha Jung

Link ke posting ini
0

Hujan Bulan Juni - Sapardi Djoko Darmono

Posted by Asrini Mahdia on 22:00 in





































tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Link ke posting ini
6

A Long Time To Wait

Posted by Asrini Mahdia on 20:26 in
Rencananya dari Februari sampai April, insya Allah akan ada 3 novel saya yang terbit :

1. Februari : The Calling
2. Februari/Maret : Malam Inaugurasi
3. April : Skenario
Yang jadi bahan pikiran saya saat ini adalah... poin yang kedua. 
Malam Inaugurasi.
Dan bapak direktur merangkap bapak editor 'yang terhormat' itu sampai sekarang beloomm juga merespon message saya...
Akhirnya saya nekat mengirimkan pesan melalui setternya dan mudah-mudahan pesan tersebut bisa disampaikan dan ditanggapi...
Karena sudah lama sekali pengunduran deadline novel tersebut. Hampir setahun, bayangkan! Sementara (khusus untuk penerbit ini) entah kenapa singkat sekali waktu untuk meretur dari Gramedia. Ini masalah kesalahan pemilihan distributornya atau kesalahan manajemen penerbitnya, saya kurang tahu.... yang pasti ada yang nggak beres sama manajemen mereka.

Saya planning, SILUET akan jadi yang terakhir untuk diterbitkan di sana. Malah lebih parah lagi, mungkin SILUET yang saya daulat menjadi masterpiece saya bakal terbit 2011. Dua tahun mengundur, padahal novel itu brilliant sekali.
Membuatnya butuh pemerasan otak dan insomnia yang berkepanjangan... menuntut konsentrasi tingkat tinggi dan doping bergelas-gelas kopi dari pagi sampai malam.*sigh* Tentang kloning manusia, tentang psychology disorder, tentang konspirasi kepolisian multilateral... dipikir mudah mengarangnya. 

Come on, publisher.... I know, you've opened the door to made my dream come true. You did it, thanks sudah mengorbitkan dan memuluskan jalan saya di dunia publishing ini. Thanks for made me the real novelist.

But, i just want you.... just once, just publish both of those novels... Just another two.... dont make me waiting, dont blow my emotion with your inconsistense... 

Posting ini terinspirasi dari blog mba rina... dari posting terbarunya... waiting, and waiting.... must be patient ya mba... we have another publisher to cover, dont worry... 

PS : ini lagi ngomongin publisher yang juga nerbitin HUJAN (yang bilangnya mau diekspor ke Jepang sampai saya udah rapat segala sama translatornya) dan MaRooN (Luka Sang Penulis) yang ternyata sekarang udah diretur dan disimpan rapat-rapat di Gudang distributor... *sigh*

Link ke posting ini
4

Penghormatan Terakhir

Posted by Asrini Mahdia on 10:03 in
Sabtu, dini hari. Tanggal 29 januari 2010. Akhirnya berita itu benar-benar datang, setelah akhir-akhir ini kekhawatiran yang besar sudah menyelimuti batin saya.

Saya berdua dengan ibu langsung terbang menuju Prabumulih, Palembang seusai sholat Shubuh, dengan buru-buru, penuh air mata... kala mendengar berita itu.

Nenek saya tersayang, sudah dipanggil oleh Allah, pada umur 89 tahun. Dan saya mendengar kabar ini dari ayah, yang saat itu perlahan membuka pintu kamar saya dan mengatakan dengan penuh duka "Dek.. nenek udah nggak ada"
Saat itu, saya menemukan ibunda saya tersayang... menangis terisak di kamar. Saya hanya bisa mengusap lembut punggungnya, tanpa bisa mengatakan apa-apa.

Kepergian nenek, memberikan status baru untuk saya... saya resmi tidak mempunyai grand parents lagi. Eyang kakung dan Eyang putri sudah lama berpulang, begitupun kakek, dan kini nenek.... grand parent terlama yang menemani saya selama hidup ini.
Saya agak menyesal... mengapa nenek tidak meninggal di Jakarta, tinggal dengan keluarga kami seperti dulu. Namun sepertinya nenek lebih nyaman di Palembang, di lingkungan keluarga melayu (percampuran Padang - Palembang - Curup, Bengkulu) yang tenteram dan dekat dengan Allah.

Sesampainya saya di depan jasad nenek... lelah yang saya rasakan dalam perjalanan, sungguh tidak lagi terasa. Semua sudah terakumulasi menjadi rasa sedih yang sangat saat melihat wajahnya yang cantik dan putih tidur dengan tenteram kala menyambut sang khalik.
Kakak ibu saya, yang selama ini telah menjaga dan merawat nenek hingga akhir hayat, kakak ibu yang saya panggil Ibu Tuo, dengan bahasa Palembang yang khas, mengatakan.... "Idak apo-apo dek... nenek berpulang dengan tenang... beliau cantik sekali sewaktu dipanggil"

Ya, memang cantik. Nenek meninggal dalam tidurnya. Meninggal dengan tenteram.
Saya ikut memandikan dan mengantarkan jenazah sampai ke tempat pembaringannya yang terakhir di dunia ini. Saat melakukan itu, saya jadi teringat... hari ini adalah hari wisuda untuk angkatan saya yang sudah lulus.

Sementara saya belum... untungnya saya belum. Saya baru mengetahui memang Allah, subhanallah... Dia memang Maha pengatur, Maha kuasa, Maha tahu segala sesuatu.

Karena saya pernah meminta ini.

Saya pernah meminta kepada Allah, agar saya diberi kesempatan...apabila nenek meninggal, saya bisa memandikan dan mengantarkan beliau sampai ke liang lahat.

Dan nenek meninggal di hari wisuda yang saya perjuangkan agar saya dapatkan. Tapi kesalahan sistem, membuat saya mengundur hingga semester berikutnya dengan bulan wisuda Agustus.

Ternyata, itulah hikmah yang tersembunyi selama ini. Allah tidak membiarkan saya lulus semester ini karena saya telah diberi kesempatan untuk mengantarkan nenek sampai ke pembaringannya yang terakhir, saya tidak dibiarkan lulus... karena Allah mengabulkan doa saya yang lain. 

Doa yang penting.

Orang tua saya pasti tidak menginginkan saya ikut ke pemakaman nenek apabila saya terpaksa harus meninggalkan wisuda. Pasti. Saya tahu orang tua saya. Mereka berdua selalu menginginkan yang Terbaik untuk anaknya.

Banyak hal, banyak kenangan saya bersama nenek. Seperti, surat-surat berlabel 'cucunda Asrini Mahdia'. Surat-surat berbahasa melayu kental dengan tulisan tangan bersambung, yang ditulis dengan pena tinta... bahkan hingga saat ini seolah masih terasa bau anyir tinta pena nenek yang biasa dipakainya menulis.

Banyak nasehat yang saya ingat. Salah satunya, seperti perlakuan nenek apabila saya tidur di ranjang terlalu pinggir... pasti selalu, nenek selalu mendorong tubuh saya perlahan ke tengah. Sambil berkata, "Lalo' idak boleh pinggir-pinggir... nanti terjatuah...." Dan setelah mendorong, pasti beliau menyelimuti saya. Itu salah satu dari sekian banyak perhatian beliau yang lain.

Masih terbayang... betapa rajinnya nenek beribadah, betapa dekatnya beliau dengan Allah, betapa lembutnya hati beliau kepada kami.

Grand parent terbaik yang saya miliki. Grand parent yang terlama menemani saya di dunia ini, akhirnya pergi.

Mungkin yang tersisa bukan lagi rasa sedih. Hanya keikhlasan dan kepasrahan, hanya kenangan... Namun, yang membuat saya sedih... melihat bunda tersayang (satu-satunya orang yang PALING saya sayangi di dunia ini. Satu-satunya orang yang membuat saya merasakan NYAMAN tingkat tinggi, yang membuat penyakit introvert ini hilang lenyap. Satu-satunya orang yang membuat saya benar-benar terbuka) Melihatnya bersedih sepeninggal nenek.... itu, yang membuat saya masih berduka hingga sekarang. 

Sempat terpikir untuk memasukkan foto nenek yang terakhir. Tapi terlalu sulit untuk harus menatap wajahnya kembali secara berulang apabila harus membuka blog ini lagi. Jadi saya urungkan.

Semua luka ini akan sembuh seperti sedia kala... hanya masalah waktu.

Selamat jalan nenek. Doa cucunda selalu menyertaimu. Insya Allah, nenek akan tenang di sisiNya...

Amin.


***


Saya tidak tahu, apakah paragraf ini justru inappropriate dan akan merusak paragraf -paragraf di atas. Namun sejujurnya, saya juga ingin memberikan penghormatan terakhir pada-nya yang baru wisuda kemarin. Selamat telah mengikuti Graduation Day... melihat foto yang bersuka cita, saya juga ikut senang dan terpacu untuk menyelesaikan.

"Kamu sangat tampan dalam foto-foto itu. Wajah manis dengan kesederhanaan bernilai. Dengan selera humor yang tinggi. Dengan sifat ekstrovert dan aktif yang menyenangkan." - menurut saya. "Selamat, semoga jalanmu ke depan lebih dimudahkan oleh Allah"

Saya melihat foto-fotonya sepulang dari Palembang, melihat status di profilnya... membacanya kata demi kata.

Ada yang bergetar di hati saya. Ada rasa  sakit dan ketidakrelaan.... kala mengetahui ternyata 'dia benar-benar sangat berharga' bahkan tidak hanya untuk saya. Bahkan untuk SEJUMLAH orang lainnya. Dan bahkan, dia pun begitu takut untuk memulai menapaki sebuah hidup baru yang dianjurkan oleh agama.

Komentar-komentar yang ada... yang mengatakan sudah banyak yang 'mengantri' menunggu-nya. Ataupun status yang mengatakan, 'takut' untuk mencoba (lebih dewasa) membuka hati bahkan untuk satu calon partner (bukan pendamping) hidup.

Membuat saya berpikir....

Memang, mungkin sudah saatnya saya melakukan keikhlasan terbesar yang lain.... Melepasnya, memberikannya untuk 'daftar antri', mempersilahkannya untuk memilih yang terbaik sebagai partner hidup.

Back to life, back to reality.

Ikhlas melakukan semua hal ini, memang sulit. Tapi saya tahu... insya Allah, saya bisa melewatinya.


Dengan kepergian nenek, dengan hikmah besar yang tersembunyi dari semua kejadian kemarin... saya jadi lebih percaya dan YAKIN akan kuasa Allah. Dia Maha mengatur segala sesuatu... dan saya yakin, suatu hari saya akan menemukan seseorang Yang Terbaik yang akan mejadikan saya sebagai partner hidupnya.


Semoga tidak terlalu lama... life is too short, saya ingin kembali ke padaMu Allah, setelah merasakan sebagai wanita sempurna... setelah merasakan kebahagiaan bersama partner hidup yang mencintai saya dan generasi saya selanjutnya.


Amin ya robbal alamin....

Insya Allah, saya bisa melihat senyum bunda kembali seperti semula...
Dan insya Allah, saya bisa menemukan 'seseorang' entah kapan dan dimana saya berada nanti...
Seseorang yang sesuai dengan 3 syarat utama, untuk menjadi partner hidup saya.

Pria Yin saya kelak...

PS : Posting ini sebagai pengecualian... karena entah apakah saya akan menuliskan tentangnya lagi atau tidak. Entah apakah masih ada cerita-cerita tentangnya, setelah melihat kenyataan yang ada dari membaca semua komentar maupun status itu. Di posting ini saya memperlihatkan foto terbaiknya menurut saya - seorang yang berada di hati saya saat ini, seorang yang saya yakin bisa saya lupakan dan ikhlaskan ketika sudah waktunya saya bertemu dengan jodoh saya yang sebenarnya. For the first time, let me introduce you... to his face, mister R - face.

Link ke posting ini
5

My Parents is My Life

Posted by Asrini Mahdia on 05:48 in


Setelah melihat beberapa film series Hollywood, terutama film lama yang baru saya selesaikan sampai season 6 yaitu Sex & The City… Saya jadi berpikir, merewind apa yang sudah saya tonton dan mengaitkan semuanya dengan kehidupan saya sekarang.
Semua personil di dalam film itu adalah wanita-wanita mature yang tidak hidup dengan orang tua. Sepertinya hidup dengan orang tua adalah hal memalukan terbesar dalam hidup mereka, dan menjadi suatu judgemental tersendiri dalam menilai kedewasaan seseorang.
Hidup seperti itu, justru menyedihkan menurut saya.
Selalu ingin sesuatu yang sempurna, pasangan yang sempurna, dan masa depan yang sempurna. Glamour, tanpa agama, hidup dalam paradigma kelas atas yang sometimes dipertanyakan ever-lastingnya. Mungkin itu sisi-sisi yang membuat saya kurang menyukai film-film girly dengan genre senada di Hollywood. Saya lebih suka detektif atau kolosal yang lebih membangkitkan adrenalin dan membuat saya penasaran, terlebih… saya tidak perlu dituntun untuk menjadi seorang wanita glamour yang hidup dalam paradigma jamak dan menyedihkan seperti kehidupan para wanita di film Sex & The City di atas.
Hidup dengan orang tua adalah anugerah yang tak terkira. Terutama di usia yang sekarang saya masih mempunyai dua orang tua yang lengkap… benar-benar suatu anugerah yang luar biasa dan patut saya syukuri dari Allah.
Tapi memang, seiring berjalannya waktu… kekurangan demi kekurangan dari orang tua semakin muncul, dan kekurangan dari mereka itulah yang menuntut kedewasaan saya.
Ayah, yang sebentar lagi pensiun. Dengan kondisi kekurangannya yang harus saya terima sejak kecil, membuat saya berparadigma nobody’s perfect itu, dan membuat cara berpikir saya lebih berbeda dari orang kebanyakan.
Ayah, saat ini semakin menunjukkan kekurangannya lagi… vonis jantung selain vonis ‘penyakit lamanya’ membuatnya sangat sangat sensitive, membuat beliau lebih nervous, lebih lemah secara mental. Dan sifatnya itu memberatkan semua personil keluarga terutama ibu saya yang sudah begitu sabar dan kuat dalam menghadapi kondisi fisik dan mental ayah yang semakin menurun.
Saya sangat salut dengan ibu saya. She’s the love of my life, the tough woman that I’ve ever met and had, the best human in the world. I cant change her with everything, even with my beloved person.
Big NO!
Ibu saya, adalah seseorang yang duduk di singgasana teratas di hati saya.
Berkaitan dengan hal di atas…baru-baru ini keluarga saya mendapatkan paper tahunan dari paguyuban keluarga besar ayah saya – keluarga Martoatmodjo.
Dan isinya sangat menyedihkan… paper itu berisi hasil rapat keluarga besar tentang diskusi atas kedua tante dari ayah saya, yaitu kedua adik perempuan eyang putri saya.
Belia berdua tinggal… hanya berdua. Tidak punya suami, yang satu janda dan yang satu perawan tua… otomatis tidak punya anak. Dan sudah menjadi tanggung jawab keluarga besar untuk merawat mereka.
Yang sangat amat menyedihkan dan menyebalkan adalah dituliskannya di paper itu mengenai pendapat salah satu sepupu ayah bernama tante Nina Sweda yang mengajukan usul agar kedua adik eyang saya itu dirawat saja di panti jompo.
Secara rasional, memang… mungkin beliau berdua membutuhkan panti jompo. Tapi secara iman, secara Islam, secara hati nurani…. Itu benar-benar keterlaluan. Naudzubillah min zalik, jangan sampai suatu hari ada syaitan yang membisikkan di telinga saya untuk mengungsikan kedua orang tua saya-kedua belahan jiwa saya ke panti jompo.
Tentunya, keluarga Martoatmodjo – keluarga jawa kental namun cukup beragama dari ayah ini, secara mayoritas mengatakan TIDAK secara gamblang terhadap usul itu. Karena life style panti jompo tersebut adalah life style orang-orang kafir.
And me too… jika saya ada di rapat itu dan boleh memberikan saran, SAYA AKAN MENGATAKAN TIDAK.
Pada saatnya nanti, jika tanggung jawab terhadap saya sudah diberikan kepada seseorang laki-laki yang mengawini saya sebagai istri dalam prosesi ijab kabul, saya akan tetap bertanggung jawab penuh terhadap orang tua saya.
Saya sudah berjanji.
Apapun kekurangan mereka nanti, apapun sakit yang mereka derita, setua apapun usia mereka, tapi saya… berjanji, sampai titik darah penghabisan akan merawat mereka dan menyayangi mereka seperti saya menyayangi diri saya (seperti saya nantinya akan menyayangi suami dan anak saya, tentunya).
Saya hidup, lebih lama dengan orang tua. Saya bisa seperti sekarang adalah karena orang tua. Memang, orang tua saya tidak sempurna secara lahir, ataupun tidak mempunyai karir yang luar biasa. Tapi saya hidup berkecukupan, saya bisa kuliah sampai sarjana dengan hidup yang sederhana, tidak sempurna, namun mereka sangat menyayangi saya.
Saya hidup dalam kasih sayang orang tua yang tak terkira. Orang tua yang religious, ikhlas, berjiwa besar dan sosial, serta tidak banyak menuntut. Saya hidup dengan orang-orang seperti itu. Syukur Alhamdulillah...
Dan saya harap, soulmate saya nanti. Seseorang yang akan menjadi suami saya nanti, juga berparadigma sama dengan saya. Dia menyayangi orang tuanya, dan nantinya… menyayangi orang tua saya, menyayangi keluarga saya, mau menerima segala kekurangan orang tua dan saudara-saudara saya.
Karena saya sangat menyayangi orang tua - orang tua saya… dan otomatis saya akan menyayangi kedua orang tuanya dan menerima segala kekurangan kedua orang tuanya, sama seperti yang saya lakukan kepada kedua orang tua saya.
Karena saya seringkali membayangkan, bagaimana beratnya keduanya menyatukan pikiran yang kadangkala berbeda dalam merawat anaknya. Bagaimana orang tua berkorban habis-habisan… membanting tulang, dan berjuang sampai titik darah penghabisan untuk membesarkan anak mereka seperti sekarang. Bagaimana bisa saya tidak membalas semua perjuangan besar yang tidak ada taranya itu. Menikah itu saja sudah sulit, bagaimana dengan menikah dan mempunyai anak yang bandel dan banyak menuntut. Sangat berat….
Orang tua saya segala-galanya buat saya… Saya selalu meminta pada Allah, agar dipertemukan dengan jodoh yang pertama – mencintai Allah, dan syarat kedua – mencintai kedua orang tua saya dan keluarga saya serta mau menerima segala kekurangan mereka, yang ketiga – mencintai saya dengan tulus.
Itu, prasyarat seseorang yang menjadi suami saya kelak…
See, bahkan saya sendiri menempatkan diri saya di urutan ketiga. Yeap, once again… I love my parents. My parents is my life, my whole body and soul… my forever, especially my Mom.
So, saya harap, saya mohon dengan sangat… Allah, jangan jodohkan saya dengan pria yang nantinya tidak menyayangi kedua orang tua saya. Yang nantinya justru menelantarkan kedua orang tua saya. Yang juga tidak patuh dan tidak menyayangi kedua orang tuanya sendiri.
Karena orang tua, di atas segala-galanya. Kita harus menghargai apapun, apalagi perjuangan orang tua.
It’s a must… and it is… and i’ll tell the world :
“SAYA BANGGA DENGAN KEDUA ORANG TUA SAYA, dengan apapun kondisi mereka”
Well, saat ini sahabat saya mengajak saya fitting brokat bareng untuk sebuah pesta pernikahan… dan saya, terpaksa meminta uang lagi kepada kedua orang tua saya hanya gara-gara brokat marun itu!
Ritual meminta uang kepada orang tua, buat saya saat ini… adalah ritual paling memalukan dan menyedihkan. Seharusnya di usia yang sekarang, sayalah yang menghidupi mereka dan meringankan beban financial mereka.
Fiuuuhh… bermodalkan royalty saja tidak cukup.
Saya benar-benar maluuu… God, I need a job!!!


Link ke posting ini
0

MIRANDA & STEVE - Sex & The City

Posted by Asrini Mahdia on 23:21 in


Pada awalnya saya memang nggak terlalu suka sama film ini. Karena hanya SEX dan bagaimana SEX terbaik yang berulangkali dibicarakan. The best scene hanya pada saat melihat kolumnis Carrie Bradshaw sedang menulis pemikirannya di laptopnya.
Tapi setelah masuk ke season 4, saya mulai ‘berada’ dalam film Sex & The City ini, karena memang selain SEX, film ini banyak menampilkan filosofi hidup, pemahaman perbedaan personal, dan konflik ketidaksempurnaan yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. FYI, to be honest... kalau udah mulai adegan-adegan tidak senonoh itu saya fast forward, saya belum pernah tahu dan merasakan, jadi agak mual juga kalau mesti dipaksa untuk melihat (walaupun memang semua adegan SEXnya nggak ada yang real).
Intinya, benar-benar tidak dianjurkan deh untuk yang masih berusia 20 tahun ke bawah untuk nonton ini. Ini film yang benar-benar dewasa.
Postingan saya ini hanya untuk menampilkan pasangan terfavorit saya di samping ini ; Miranda & Steve.
Pasangan ini mengingatkan saya pada…. The one and only person who still stay in my heart now and I don’t know when will I forget him.
Miranda & Steve… its like Yin & Yang. Miranda dengan postur yang lebih tinggi dari Steve ini adalah seorang lawyer sukses di New York dengan segudang ambisi dan mempunyai sifat judgemental yang agak mempersulit hidupnya. Dia selalu bangun pagi dan menginginkan semuanya berjalan sempurna.
Sementara Steve adalah seorang bartender, mempunyai bar, selalu bangun malam untuk bekerja, pecinta superhero, gamer sejati, high sense of humor, santai, dan artistic.
It reminds me of something... of someone…
Seorang laki-laki manis, dengan tubuh kurus – lebih kurus dari saya (masih belum mengukur apakah lebih pendek dari saya atau tidak). Pecinta eksak, seni jawa – katanya pengen jadi seniman meskipun dia meraih IPK tertinggi di kampus, pecinta superhero, dan sepertinya suka bangun siang. Hmmm… hehe. Ring a bell?
Maybe if… me and him got together… maybe its like Miranda & Steve. Yeah, I’m Miranda and he’s Steve.
Saya orang yang suka dengan perbedaan dan ingin memiliki pasangan hidup yang memiliki polaritas berbeda tapi saling melengkapi seperti Yin & Yang itu. Karena saya suka apapun hal yang baru… Saya suka compromise dan mensinkronisasi hidup saya dengan hal-hal baru itu, hal-hal yang berbeda dengan apa yang saya suka agar saya juga merasakan saripati hidup, merasakan hidup secara luas dengan pikiran yang luas dan jiwa yang besar
Saya bisa HIDUP dikarenakan adanya perbedaan…
Saya suka hidup yang berwarna-warni...
Saya bukan orang konvensional yang suka dengan keharusan untuk memilih satu warna antara hitam dan putih. Saya open minded, saya suka percampuran – mixed... Saya suka abu-abu.
Sejak kecil, hidup mengajarkan saya untuk menjadi seseorang yang berparadigma nobody’s perfect dan melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda... Bukan jamak, dan bukan asal ngikut...
Thats why, I like this couple…
It will be ever lasting couple, by the way… dengan segala pengertian dan compromise itu. Mensupport apapun keputusan dan profesi yang diinginkan pasangannya, asalkan semua dijalankan secara rasional dan profesional.
Cinta dan pengertian atas dasar perbedaan...
Thats the real love, thats the real life...
Well, its just IF… jika memang bukan Dia, saya yakin Allah sudah menyiapkan yang lain, mempertemukan saya dengan yang lain – somewhere else...
Mungkin seperti Dia… Dan saya harap ada kemiripan dengannya, walaupun sedikit
Seseorang dengan segala perbedaan hidup dari kehidupan saya…
Pria Yin saya, kelak…


Link ke posting ini
0

Aku Akui, Ini Konyol

Posted by Asrini Mahdia on 01:01 in


Aku akui...
Ini konyol...
Rasa-rasanya, aku belum pernah merasakan hal seperti ini...
Menyukai seseorang yang sebentar lagi akan pergi...
Menyukai seseorang yang seringkali aku lewati karena traumatis, pesimistis, egois, dan ambisi yang pada akhirnya tidak aku dapatkan...

Aku memang berkonsisten untuk fokus di sana...
Melewati hari-hari hanya dengan datang, duduk, dan pulang...
Tanpa sedikitpun ingin menengok ke sana-sini...
Tanpa sedikitpun berkeinginan untuk bersosialisasi...

Tapi pada akhirnya, aku kalah juga dengan tempat ini...
Aku kalah dengan sistem, kalah dengan akademis, dan pelajaran yang memang bukan menjadi favoritku...

Aku kalah, dan pada akhirnya aku menjadi salah satu dari sebagian kecil orang-orang yang tertinggal...

Aku akui...
Ini konyol...
Menyadari seseorang yang begitu menarik, begitu saja terlewat di waktu-waktu yang lalu...
Padahal dulu aku cukup sering bertemu dengannya...

Jika aku mengesampingkan ego dan sikap pesimis, sikap introvert itu...
Mungkin akan lebih banyak kenangan yang aku miliki bersama dengannya...

Tapi apakah dengan itu, aku bisa menyukainya seperti perasaan yang aku alami saat ini...

Aku akui...
Ini konyol...
Mengharapkan kedatangannya di saat semua sudah terlambat...
Di saat waktu kepergiannya dari tempat ini sudah dekat...
Di saat tidak ada lagi kepastian waktu untukku dapat melihatnya lagi....

Aku akui...
Ini konyol...
Rasa-rasanya aku belum pernah merasakan hal seperti ini...
Menyukai seseorang yang sebentar lagi akan pergi...

Tapi ini kenyataan...
Walaupun aku akui, di telinga kalian ini konyol...
Sayangnya, yang aku rasakan berbeda...

Ini benar-benar tidak konyol...
Ini kenyataan...
Aku menyukainya...
Dan hingga saat inipun, hingga aku memutuskan untuk menghapus bayangannya karena alasan rasionalitas....
Aku tidak bisa...

Ini benar-benar tidak konyol...
Ini kenyataan...
Aku tidak bisa menghapusnya dari pikiranku...
Seseorang dengan kenangan yang sedikit itu...
Seseorang dengan wajah yang jarang tersenyum ketika blitz kamera merekam wajahnya yang manis itu...
Seseorang dengan indah yang sangat berbeda itu...

Ini benar-benar tidak konyol...
Ini kenyataan...
Aku menyukainya...
Aku mengharap untuk bertemu kembali dengannya...
Aku berandai dia akan datang ke launching novel bulan Februari ini...
Meskipun yang aku undang adalah temannya...

Tapi, ini benar-benar tidak konyol...
Ini kenyataan...
Aku mengharap dia yang akan datang ke acaraku...
Menunjukkan pesona yang akan menjadi supportku...
Bertemu dengannya lagi...

Karena ini kenyataan...
Aku benar-benar menyukainya...
Dan benar, ini memang pengalaman pertama dalam hidupku...

Menyukai seseorang yang sebentar lagi akan pergi...
Mengharapkan kedatangannya di saat semua sudah terlambat...
Di saat waktu kepergiannya dari tempat ini sudah dekat...
Di saat tidak ada lagi kepastian waktu untukku dapat melihatnya lagi....






Semua seolah menjauhkan aku darinya...
Mereka...
Keputusan penerbit untuk tetap memakai desainer terpilih...
Dan kesempatan....
Semua itu sudah hilang....
Dan dia, tidak akan ada lagi...


Link ke posting ini
0

Apple Pie

Posted by Asrini Mahdia on 09:13 in

Time to cook! :D
Udah lama nggak buat kue ini. Ini Lekker... 
Kalau kata eyang saya dulu waktu beliau masih hidup.
Buatnya nggak terlalu sulit, enak...
Dan hmmm... Lekker....


Sebenernya saya menyesuaikan resep dari sini, tapi ada beberapa bahan yang dihilangkan...


Bahan :
Terigu, Apel Malang, Maizena, Pala, Gula pasir, Air Jeruk, Kuning telur, Susu cair 


Cara : (adaptasi dari resep di sini, soalnya sama aja buatnya)


  1. Aduk semua bahan, dengan pisau pastry ato 2 buah pisau, tuangi air sedikit demi sedikit, aduk sampai adonan kalis.
  2. Bulatkan adonan simpan dilemari pendingin + 1 jam, keluarkan.
  3. Gilas adonan setebal 1/2 cm, ratakan diatas loyang pie 21cm
  4. Campur semua adonan isi sampai rata
  5. Tuang kedalam loyang, ratakan tambahan potongan margarine dibeberapa tempat (menyebar)
  6. Tutup dengan adonan kulit, pijit2 pinggiran loyang sehingga adonan rapat dan membentuk motif, ato potong2 adonan 1.5 x 22cm susun diatas adonan isi, menyerupai jaring2.
  7. Olesi dengan kuning telur. Panggang dalam oven 180C selama 45 menit sampai kuning kecoklatan. Angkat.
  8. Potong2, sajikan.

    PS : Gambar ini cuma dummy, ngambil secara sembarang dari Google, yang sebenernya soalnya belum jadi.... Hehe


    Link ke posting ini
    0

    Bahkan Maaf Terucap...

    Posted by Asrini Mahdia on 19:07 in




     
    Perempuan itu sedikit terkejut dengan beberapa pesan yang dibacanya di dunia virtual itu
    Pesan yang berada dalam profil yang dilihatnya...
    Pesan yang ada dalam sebuah ID misterius yang meng-add messengernya...
    Perempuan itu merasa...
    Ada sesuatu yang sama...
    Ada sesuatu yang salah...
    Dia membaca ulang hasil postingannya beberapa hari yang lalu..
    Dia membaca status yang dituliskannya di profil miliknya...
    Perempuan itu merasa...
    Sekali lagi, perempuan itu... merasa
    Dia... berbicara...
    Dia berbicara melalui alam...
    Merasa alam berbicara pada sang perempuan...
    Merasa sebuah pesan disampaikan alam untuknya...
    Pesan darinya...
    Bahkan Maaf terucap dari hati sang perempuan...
    Bahkan dia meminta maaf jika merasa kata ‘menghakimi’ itu merasuki benak Dia...
    Bahkan Maaf terucap, apabila memang yang dirasa sang perempuan terhadap Dia salah...
    Perempuan tidak mengenalnya...
    Perempuan mengharapnya bergerak...
    Tapi Dia... belum bisa...
    Dia merasa ‘dihakimi’....
    Bahkan Maaf terucap dari bibir sang perempuan...
    Apabila benar Dia telah mengetahui, apabila benar semua praduga ini...
    Apabila benar alam, menyampaikan pesan Dia padanya...
    Apabila benar.... perempuan itu yang salah...
    Perempuan itu hanya takut akan masa lalu...
    Perempuan itu hanya mencari sebuah pengertian...
    Dan Dia... tidak bergerak...
    Dia... belum bisa...
    Perempuan itu memang ikhlas menunggu...
    Tapi waktu, mungkin yang tidak sabar...
    Jika memang inilah adanya...
    Mungkin alam menyampaikan, inilah takdir sang perempuan dan Dia...
    Hanya Maaf terucap...
    Bahkan Maaf terucap...
    Meskipun perempuan itu belum mengenalnya...
    Sang perempuan begitu ikhlas mengucapkan ini...
    Dari hatinya yang terdalam pada sang Dia...




    “Maaf.......”



    Link ke posting ini
    0

    Hari Ini...

    Posted by Asrini Mahdia on 19:05 in

    Saya tadi agak telat datang ke kampus, tepatnya saya telat datang ke LD kampus. Disana sudah dipenuhi banyak anak-anak reguler yang sedang mempersiapkan diri untuk acara yudisium besok.
    Pada saat saya datang dan mulai menulis, mereka sedang berlatih lagu I Have A Dream ciptaan ABBA. Nggak ada tempat, sudut-sudut yang ada colokan kabelnya dipenuhi anak-anak reguler yang bertugas menjadi event organizer untuk yudisium besok.
    Saya baru ingat, kalau besok itu yudisium. Saya hanya ingat tanggal wisuda saja. Tanggal 30 Januari. Nggak ngerti kalau ada yudisium, gladi resik, bla and bla.... Berhubung saya nggak gitu perhatian karena saya tidak lulus bulan ini.



    Akhirnya dengan sangat terpaksa, dan menguatkan diri untuk fokus serta tidak mempedulikan beberapa anak reguler maupun karyawan yang berlalu lalang, akhirnya saya menulis.
    Hujan deras yang mengguyur memang agak mengganggu, terutama dengan saya duduk di lobi dan agak dekat dengan pelataran, agak takut terkena tetesannya. But the good side... mood menulis saya jadi datang.
    Beberapa orang yang berlalu lalang, juga cukup mengganggu.. Dipikir aneh mungkin, harree genee... duduk di lobi bertemankan laptop, ngetik, kerajinan kali yaaa mereka pikir. But, what the heck? I dont care... yeap, do your own business kids.... Walaupun sejujurnya nggak nyaman juga.
    Tapi setelah satu setengah jam berlalu, akhirnya paduan suara itu pergi dan saya bisa menulis di LD, walaupun teteeuup... bagian meja dan kursinya sudah ada yang menempati. Saya akhirnya duduk di depan kelas 1.04. (Foto di sebelah kiri) Kelas yang saya ingat, kelas pertama saya berkuliah di kampus ini- yeah waktu itu pengantar akuntansi. Pelajaran yang juga membuat saya tidak bisa lulus bulan ini.... Damn! I really hate accounting!!!
    Naskah yang saya kerjakan kini hanya tinggal 2. Karena novel Skenario (teen) sudah selesai saya revisi dan saya kirim ke owner, tinggal E-Book, dan novel Cherry Blossom (Jepang kuno) yang jadi PR saya.
    Naskah pertama yang saya ketik adalah Cherry Blossom. Dikarenakan saya sudah membuat plotnya, jadi tinggal disalin dan dikembangkan saja. Hasilnya lumayan... dapat sepuluh halaman walaupun target menulis di kampus adalah 20 halaman. Mmmm... yah, sedikit  kecewa juga sih menulis di kampus, bayangan saya kampus akan sepi, tapi nyatanya nggak.
    Malah orang-orang pada sibuukk.. Kursi-kursi didirikan, orang-orang kilir-kulur, hilir-mudik,lalu-lalang,bolak-balik, mondar-mandir.... bikin pusing. Mungkin lain kali kalau mau menulis, jangan H-1 yudisium kali yeee... Agak nyesel juga sih. Tapi good sidenya... saya produktif hari ini.
    **************************************





    Foto yang berada di posisi kanan ini adalah foto anak-anak jalanan dan ibunya, yang memang seringkali menumpang istirahat di berbagai fakultas maupun kampus yang tersebar di UI – Depok. Tak jarang, saya juga sering naik bis kuning bersama mereka. Hmm, malang bener ya... terutama kalau dengar berita-berita tentang nasib mereka yang kurang beruntung. Baik tekanan ekonomi, maupun kesusilaan.
    Orang-orang dalam foto yang saya ambil di atas, secara tidak langsung adalah orang-orang yang (menemani) saya duduk di lantai di LD, di kawasan ini. Secara tidak langsung, mereka membuat saya tidak kesepian... Tanpa sedikitpun mengganggu konsentrasi saya sekarang.
    Saya senang dengan mereka duduk di sana, karena mereka sama sekali tidak mengganggu.... Apalagi tadi anak perempuannya yang paling kecil, mendatangi saya sambil cekikikan. Lucu banget rasanya, terutama ketika melihat wajah manis dengan rambut bertutup jilbab pink, dan mata innocent itu memperhatikan mata saya. Tersenyum dalam diam, meminta perhatian. Hehe... What a lovely moment. Di rumah sudah tidak anak kecil lagi yang bisa menyejukkan suasana yang mulai gersang.
    Allah save them, please.... dan lindungi semua orang-orang yang berada di bawah garis kemiskinan yang tak berdaya itu. Mereka semua juga hambaMu. Sama seperti saya, yang di mataMu derajatnya sama seperti mereka...
    Amin.


    Link ke posting ini
    4

    Satu Setengah Tahun Yang Lalu

    Posted by Asrini Mahdia on 21:48 in
    Teringat waktu dulu talkshow novel HUJAN saya yang pertama. (Memang pertama kalinya talkshow). Gimana serunya ambience dan penonton yang hadir, jadi kangen momen kayak gitu lagi... hihihihi... Februari nanti saya akan merasakannya lagi. Tapi sepertinya akan lebih terkoodinir. Gimana juga, tetep kok... Saya kangen untuk 'berjuang' bersama karya saya lagi.

    Foto-foto ini sekedar bercerita...
    Satu setengah tahun yang lalu di Fiximix Bookstore...

    PS : Kalau mau beli HUJAN silahkan hubungi penerbit saya di link yang ada di blog ini... (teteup promosi) :D :D




    Kalau mau tanda tangan antri ya... hehehehehhe (Ruang tanda tangan)





    Pembukaan.. Novel HUJAN yang tengah :P




    Dibuka dengan live music




    Dua jurnalis 'kritis' yang nyiapin pertanyaan...hmm, menakutkan...Deg-degan



    Bapak baju biru yang berdiri di tangga itu editor saya, nggak kebagian tempat ya pak Herman, hihihii....


    Emang kelakuan... Itu saya sama sepupu saya -Thee, bukannya merhatiin malah ngobrol, ini acaranya siapa sih?? huhuhu... Udah bosen giliran talkshow novel saya belom mulai juga.... hehehehehe




    Time to go home... Owh! Mba rina! Close Up! Kok gendut yaa.... Hehehehhehehe




    Link ke posting ini
    0

    Owh... My Eyes

    Posted by Asrini Mahdia on 23:21 in

    Waktu yang begitu banyak terbuang kemarin karena seringnya beraktivitas di luar rumah, dan pikiran yang nggak fokus... blocking berulang-ulang dari naskah karena sulit memfokuskan mana naskah yang sebaiknya saya selesaikan... Really kill me... Especially my eyes...

    Berjam-jam menghabiskan waktu di depan komputer, kemudian laptop... berganti-ganti kamar... berganti suasana, tetap saja menambah kelelahan mata yang tak kunjung selesai. Mungkin karena ritual tidur yang kurang teratur dan tidak sehat...

    Berjam-jam di depan komputer sambil memikirkan... whats next... benar-benar menyiksa... Apalagi saat sekarang ini benar-benar dikejar waktu dan seolah ada godam yang bersarang di dada dan perut jika memikirkan lagi 3 naskah yang harus deadline tanggal 30 bulan ini.


    Sempat terpikir untuk keluar rumah, dan menulis di kafe untuk membentuk garis batas  antara hidup saya dan hidup penulis dan juga supaya ada balancing bagi mata plus menjauhkan diri dari kebisingan lingkungan rumah yang semakin menjadi saja akibat sekolah yang baru saja didirikan ini.. tapi kalau ke kafe mentok di budget karena kafe sekitar rumah ini pajak makanan dan minumannya selangit walaupun harga menu makanannya cukup bersaing. Salah-salah menulis jadi tidak tenang nantinya...


    Well, mungkin kamis nanti saya ingin mencoba mencari garis batas dan balancing mata itu nanti di kampus. Sambil menunggu teman dan ketua program yang saya rencanakan akan  mampu mengabulkan dosen pembimbing yang saya minta.

    Mudah-mudahan lobi kampus tidak terlalu ramai atau mungkin perpustakaan, atau di depan lembaga demografi... supaya saya bisa tenang menulis... menulis dengan murah tentunya., dengan membawa bekal seadanya.

    Yah, tetap berharap situasi dan kondisi dapat mendukung nantinya. Mudah-mudahan saja.



    ***************



    Sebenernya yang bikin males kalo ketemu gengnya mister R... yeap,  geng ekstensi yang eksis banget di FB dan milis... They seem so nice, but I dont know them well... It really so uncomfortable to meet them... except, meet mister R for sure... Bisa nggak sih ketemu dia lagi menyendiri gitu, minus temen-temennya? Well, i think... it wont be happen... Mister R loves to laugh and play with his friends... Satu hal yang membuat saya berpikir, is he still childish in his 24 years old? If he is... i mean childish, kind of that... Maybe I should stop thinking about him... Because my whole life soooo sooo mature and hard, I live in the unperfect life... A childish man wont effort and blending with my life, definetely... And what I need is a man who can lead me in anything, with any positive way... I still dont know him, still dont know what happens next...


    We'll see then, if I can see him again of course...


    Link ke posting ini
    2

    I'm A Woman, but...

    Posted by Asrini Mahdia on 11:07 in

    Postingan ini saya tulis dikarenakan saya agak terganggu dengan conversations yang berlangsung kemarin... kemarinnya lagi dengan teman-teman wanita saya. About every woman... dan kodrat mereka.

    Pembicaraan itu pada intinya berakhir dengan suatu kesimpulan dimana 'wanita itu seharusnya bergantung sama laki-laki'... Kalau laki-laki menjadi pemimpin wanita karena kerasionalannya, saya setuju. Memang Allah sendiri yang memerintahkan kaum perempuan untuk mematuhi keputusan laki-laki yang menjadi suaminya. Saya setuju hal itu karena Allah sudah menciptakan laki-laki dengan rasionalitas yang jauh melebihi wanita yang lebih didominasi oleh emosional. Terlebih, Allah telah mensahkan bahwa nantinya... laki-laki a.k.a suami yang harus bertanggungjawab atas perbuatan yang dilakukan wanita yang menjadi istrinya di akhirat nanti. Jadi, sangat wajar dan memang wajib wanita itu mematuhi keputusan laki-laki yang menjadi suaminya.

    Namun yang jadi bahan pertanyaan di sini... kenapa teman-teman wanita saya lebih ingin menjadi ibu rumah tangga dan bersuamikan laki-laki kaya, atau other case, bekerja yang standar dan suami lebih berusaha memenuhi kebutuhan rumah tangga. Bukannya suami istri itu adalah partner, satu sama lain harus saling mendukung termasuk kebutuhan finansial...

    Kondisi saya saat ini memang mengharuskan jenjang karir saya dimulai dari strata terbawah, karyawan kontrak - sampai sekarang saya masih jobless... Tapi saya punya ambisi... Seperti mengejar jenjang karir, mengelola sebuah bisnis pribadi, dan pada akhirnya saya akan mempunyai 'tabungan saya sendiri' yang diperuntukkan untuk melengkapi tabungan suami, tabungan rumah tangga... dan in case (amit-amit ya) kalau ada MASALAH dalam kehidupan rumah tangga saya nantinya.

    Tapi kalau SEMUA yang dilakukan wanita di kehidupan selalu bergantung sampai hal sekecil memasang kerai gorden yang copot atau memasang lampu tembok, buat saya kasihan sekali wanita seperti itu.... Dia tidak bisa merasakan saripati hidup, dia tidak HIDUP, tidak merasakan tantangan... Apalagi jaman sekarang langgengnya rumah tangga memang benar-benar tidak bisa diprediksi sampai berapa lama (terutama rumah tangga yang tidak dilandaskan oleh agama yang kuat)... Sulit.

    Padahal, apabila memang masalah rumah tangga itu benar-benar datang... dan banyak kasus, kita melihat wanita yang bahkan sedang mengandung diceraikan oleh suaminya... terutama jika wanita itu tidak ada 'income-nya sendiri', satu-satunya cara melanjutkan hidup adalah wanita itu diharuskan untuk mandiri dan bekerja keras mencari pemasukan.

    Orang tua sejak dulu mengajarkan saya untuk mandiri (terutama dengan kondisi ayah yang seperti itu), saya sudah diajarkan untuk mandiri... Mandiri terhadap situasi, walaupun yah... saya tidak bisa 100% menghilangkan sisi kewanitaan saya yang mudah panik, takut dan perfeksionis... tapi saya bukan termasuk tipe wanita yang seperti teman-teman saya diskusikan kemarin.


    Saya tidak akan menggantungkan sepenuhnya hidup saya kepada kaum yang bernama, Laki-laki. Dalam kehidupan rumah tangga saya nantinya, saya tidak ingin dianggap sebagai 'pendamping', buat saya kata itu justru mengkategorikan saya sebagai 'nomor dua'-nya suami. Saya lebih suka jika saya dianggap sebagai 'partner', karena 'partner' juga berusaha untuk melengkapi, bekerja untuk menghidupi... Sementara 'pendamping', seperti (kasarnya) 'hewan peliharaan' yang ingin ikut kemanapun majikannya pergi.

    Suami istri harus saling melengkapi, harus saling menghargai.... Itu dua kunci  penting untuk membina kelanggengan dalam rumah tangga, menurut saya...

    Well, itu paradigma saya pribadi... Entah menurut pendapat yang lain...

    Link ke posting ini
    0

    Do You Wanna Be My Designer?

    Posted by Asrini Mahdia on 00:27 in

    Ini sebenarnya sudah beberapa minggu yang lalu jadi rencana saya. Terinspirasi dari salah satu cover komik berjudul 'Different Ugliness, Different Madness 'yang ada di salah satu album foto mister R di facebook.

    Awalnya saya pikir, cover tersebut di atas hasil designnya mister R... karena sepertinya, mister R itu suka mendesain. Hasil pencarian saya tentangnya di Google dan menemukan ini, dan langsung menyimpulkan begitu setelah saya merelasikan ID Gmail dia yang berlabel : designtistic... Saya rasa dia suka mendesain, dan memang bisa mendesain.

    Kebetulan suatu malam, saya ber YM dengan salah satu temannya yang sepertinya promotor abis.. dan saya bertanya dengan temannya mengenai hobi mister R ini... apa benar dia suka mendesain... Dan temannya bilang, IYA... bahkan ada rencana teman mister R dan mister R membuat kaos untuk asosiasi penderita Skoliosis... Mister R mendesain, dan temannya itu sebagai promotor. Tapi karena terhalang sidang, akhirnya proyek itu batal. Kurang lebih yang temannya itu sampaikan kepada saya.


    Its like ring 'my bell'.... Saya memang mencari seseorang untuk menjadi desainer pribadi saya. Beberapa teman memang ada yang suka menggambar, tapi gambarnya terlalu punk, terlalu kasar... beside, selain menggambar saya juga ingin desainer cover novel saya ini bisa memotret dan memphotoshop hasil-hasil jepretannya untuk dibuat gambar cover novel... contohnya seperti cover novel saya yang berjudul SILUET...

    Saya perhatikan, mister R suka mengambil foto... tapi untuk mendesain foto itu menjadi lukisan atau cover... sepertinya saya belum melihat karyanya di Facebook. Well, masalah memfoto sepertinya no big deal, asal dia bisa mendesain.


    Untuk naskah saya di FOU Media Publisher... mungkin mister R tidak perlu membantu saya membuatkan desain covernya, karena sudah ada desain brilliant sendiri di sana... (Awalnya pengen megang desainer FOU) Tapi, mbak Azisa ini, temennya editor FOU... dan lagi saya sama sekali belum pernah bertemu orangnya... Saya tidak akan bebas mengekspresikan 'mau'nya saya ke cover tersebut, selain itu saya agak segan dengan orang yang belum saya kenal untuk saya percayakan menjadi partner saya...


    Tapi, saya saat ini sedang dikejar 3 deadline naskah... yang satu E-book, yang satu novel fiksi berlatar Jepang kuno, yang satu novel Teen - novel saya yang sudah lama sekali selesai tapi sedang membutuhkan revisi besar-besaran... Dan SEHARUSNYA 3 naskah itu sudah selesai akhir bulan ini... Itu yang jadi bahan pikiran dan depresi saya karena seringkali BLOCKED dan nggak fokus...


    Balik lagi ke desainer cover... berkaitan dengan paragraf di atas... Saya membutuhkan desainer pribadi untuk 3 naskah di atas... Saya butuh desainer E-Book, untuk mendesain beberapa gambar komik kecil yang ada di 10 subjudulnya... Saya butuh desainer cover berlatar Jepang kuno dan Teen yang diterima 2 penerbit berbeda itu karena saya nggak mau 'salah pilih' desainer yang nggak demokratis dengan pendapat saya - lebih memikirkan pendapat owner - padahal saya yang menguasai isi cerita - dan hasilnya nggak nyambung... (Pengalaman di salah satu penerbit, dan kalau bisa saya juga memakai desainnya mister R di penerbit tersebut).


    Jadi... simpelnya ada 4 penerbit  dan 1 investor (E-Book) yang saat ini 'memegang'  naskah saya, minus 1 penerbit yang sudah punya desainer tetap... jadi 3 penerbit dan 1 investor yang kalau bisa menghire desainer pilihan saya. Dan mengenai desainer cover pribadi yang saya mau ini membutuhkan perundingan dengan ownernya masing-masing... Saya rasa kansnya 50%, karena mayoritas penerbit cukup demokratis dengan request penulisnya...


    Nah, yang jadi pertanyaan... mister R, benar-benar mampu dan MAU nggak? Well, saya sama dia nggak perlu ketemu, semua bisa dilakukan secara tidak langsung, layaknya bisnis Kaskus... Business is business, totally saya nggak mengaitkan ini dengan perasaan... Saya profesional dan saya tahu, saya punya otak bisnis itu...


    Jikalau iya... dan nantinya semua rencana ini lancar... Desain gambar ataupun desain foto dari mister R overwhelming... catchy, touchy, brilliant - karena masyarakat Indonesia sangat menjudge buku dari covernya (terutama novel)... Saya bisa memakai dia terus untuk naskah-naskah yang lain... Juga untuk Self-Publishing. 


    Memang, satu desain nggak terlalu banyak dihargai... Kisarannya 400ribu-1juta untuk satu kali desain, untuk ribuan cetak buku yang akan dipajang di etalase toko... Tapi saya benar-benar membutuhkan desainer, karena saya ingin cover-cover novel saya selanjutnya nanti benar-benar mewakilkan ekspresi dan perasaan saya terhadap isi cerita... Kalau teman yang mendesain, sepertinya saya akan lebih bebas berpendapat dan mencurahkan APA MAUnya saya untuk cover novel saya ini..


    Selintas pikiran ini datang lagi, saat saya sekarang sedang menyelesaikan naskah-naskah dan melihat kembali 2 cover novel terdahulu  YANG TIDAK SESUAI DENGAN KEINGINAN saya itu... (Mana yang satu bakal dipublish Februari ini lagi... *sigh*)

    Sejatinya, setiap penulis novel... memang harus punya desainer covernya sendiri... Private - Sebagai pegangan dan 'penyelamat' novel penulis itu sendiri., in case sang penulis stuck dengan desainer cover satu penerbit. Penulis novel harus punya pegangan dan 'penyelamat' itu. Alasannya, karena cover novel adalah ujung tombak laku tidaknya sebuah novel dan tentunya akan berdampak pada banyak sedikitnya income yang masuk dari royalti... Itu teori saya pribadi menurut pengalaman dan hasil survey saya sendiri mengenai pasar publishing plus pendapat orang-orang yang berkaitan di dunia publishing.


    Terutama di negara ini... Lebih banyak masyarakat yang cenderung judgemental terhadap cover novel... Karena fiksi, jadi semua pandangan tertuju ke cover apakah cerita di dalam novel serius atau tidak, layak dibaca atau tidak, semua itu bergantung kepada cover... Lain halnya dengan non fiksi, mereka lebih percaya dengan JUDUL - meyakinkan atau tidak... Coba Anda rasakan sendiri, benar tidak analisa saya ini...



    So mister R... Do you wanna be my designer? Can you?
    Well, its about time... Dan saya akan benar-benar mengusahakannya...


    Link ke posting ini

    Copyright © 2009 Inspired By... All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.